162 Masalah Sufistik merupakan sebuah buku berbahasa Indonesia (Buku Terjemahan). Buku ini layak untuk dimiliki para pecinta buku, khususnya buku Agama Islam.
Sebelum memahami kekayaan yang termaktub di dalamnya, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan penulisnya.
Penulis Kitab Asli Yang Diterjemahkan Menjadi 162 Masalah Sufistik
Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah salah satu ulama besar dari Hadramaut, Yaman. Lahir pada 5 Safar 1044 H (30 Juli 1634 M).
Meskipun sejak usia muda beliau kehilangan penglihatan, hal itu tidak menghalangi beliau untuk mengejar ilmu agama dengan tekun.

Beliau berhasil menghafal seluruh Al-Qur’an dan mendalami berbagai cabang ilmu agama, termasuk fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, dan tasawuf. Hingga akhirnya mencapai derajat Quthbul Ghauts—tingkat tertinggi dalam peringkat wali Allah.
162 Masalah Sufistik Terjemah Karya Fenomenal Sang Imam
Karyanya dikenal luas karena mampu menyatukan pemahaman mendalam tentang syariat dengan ajaran tasawuf yang praktis, berlandaskan sumber-sumber agama yang otentik.
Buku 162 Masalah Sufistik merupakan terjemahan dari salah satu karya magnum opus beliau yang telah menjadi rujukan penting dalam studi tasawuf Islam.
Sebagaimana namanya, buku ini menyajikan 162 poin masalah yang disusun secara sistematis untuk mengulas berbagai aspek tasawuf, mulai dari dasar-dasar hingga konsep-konsep yang lebih mendalam.
Setiap masalah diangkat dengan tujuan yang jelas, mengklarifikasi makna ajaran sufistik, menjawab keraguan yang sering muncul di kalangan masyarakat.
Selain itu membendung kesalahpahaman yang telah berkembang tentang tasawuf, terutama anggapan bahwa ajaran ini bertentangan dengan syariat Islam.
Buku Yang Memuat Isi Sangat Penting Dari Banyak Topik
Isi buku mencakup berbagai topik penting, antara lain pengertian hakiki tasawuf dalam pandangan Islam, hubungan yang tak terpisahkan antara syariat (jalan agama yang resmi), tariqat (jalan spiritual yang diikuti), dan haqiqat (kebenaran yang dicapai).
Penulis juga mengulas secara mendalam konsep ma’rifatullah (kenalan dengan Allah SWT), prinsip zuhud yang tidak berarti menjauhi kehidupan duniawi secara total.
Prinsip Zuhud lebih dimaksudkan ke mengatur hubungan dengan dunia agar tidak menghalangi hubungan dengan Sang Pencipta.
Selain itu, buku 162 Masalah Sufistik membahas tentang riyadhah (latihan jiwa dan hati), peran hati sebagai pusat kehidupan spiritual.
Cara membersihkan hati dari cacat-cacat seperti riya’ (sombong karena ibadah), hasad (iri hati), dan duniawi (keterikatan pada dunia).
Setiap penjelasan disertai dengan dalil-dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, serta pendapat para ulama terkemuka dari berbagai mazhab untuk memperkuat argumen yang disampaikan.
Bahasa yang digunakan oleh penerjemah sangat jelas dan mudah dipahami, sehingga buku ini dapat diakses oleh berbagai kalangan pembaca.
Baik mereka yang baru memulai mempelajari tasawuf maupun mereka yang sudah memiliki pemahaman dasar dan ingin memperdalam pengetahuannya.
Referensi Tambahan Para Pembelajar Tasawuf
Tujuan utama buku ini adalah memberikan panduan yang benar, sesuai ajaran Islam. Disusun praktis bagi mereka yang ingin mengembangkan kehidupan spiritual serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Penulis juga menekankan bahwa tasawuf bukanlah ajaran yang eksklusif. Sebagian orang tertentu, jalan yang dapat ditempuh oleh setiap muslim yang memiliki keinginan tulus untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupannya.





